Merawat Tradisi, Menguatkan Sinergi: Mahasantri KKN dan Ruang Belajar Sosial di Pasrujambe

Lumajang — Tradisi selametan di tengah masyarakat pedesaan bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia adalah ruang perjumpaan, medium konsolidasi sosial, sekaligus sarana transmisi nilai-nilai keagamaan yang hidup dan mengakar. Hal inilah yang tampak dalam kegiatan selametan di Masjid Miftahul Jannah, Dusun Saringan, Desa Jambearum, Kecamatan Pasrujambe, menjelang Ramadhan 1447 H.

Seluruh elemen masyarakat hadir, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Selepas shalat Maghrib berjamaah, lantunan tahlil dan doa bersama menggema, menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya menjaga kesinambungan budaya, tetapi juga memperkuat spiritualitas kolektif warga.

Bagi mahasantri peserta Kuliah Khidmah Nabawiyah (KKN) Ma’had Aly Assunniyyah Kencong Jember, momentum tersebut bukan sekadar mengikuti agenda keagamaan. Ia menjadi ruang belajar sosial yang nyata. Kehadiran mereka di tengah masyarakat menjadi bagian dari proses adaptasi, memahami karakter warga, sekaligus membaca kebutuhan riil umat.

Melalui perkenalan diri dalam forum selametan, mahasantri membangun jembatan komunikasi dengan masyarakat. Pendekatan kultural semacam ini menjadi fondasi penting sebelum menjalankan program-program khidmah. Sebab pengabdian yang efektif tidak lahir dari konsep semata, tetapi dari dialog dan kedekatan.

Pasca selametan, interaksi itu berlanjut dalam musyawarah bersama pengurus masjid dan tokoh masyarakat. Forum tersebut membahas rencana pelaksanaan kultum selama Ramadhan. Di sini tampak pola relasi yang partisipatif; mahasantri tidak memosisikan diri sebagai pengajar tunggal, melainkan sebagai mitra yang siap menerima saran dan masukan agar materi yang disampaikan kontekstual.

Sebagian mahasantri juga mendapat amanah menjadi imam shalat secara bergantian di mushala setempat. Amanah ini bukan hanya bentuk kepercayaan, tetapi juga simbol integrasi sosial. Kepercayaan tersebut menandakan bahwa keberadaan mahasantri diterima sebagai bagian dari ekosistem keagamaan desa.

Tradisi selametan, dengan demikian, tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan. Ia menjadi simpul yang mempertemukan nilai tradisi, penguatan spiritual, dan proses kaderisasi sosial-keagamaan. Di ruang-ruang sederhana seperti inilah, sinergi antara pesantren dan masyarakat menemukan maknanya yang paling otentik: saling belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama merawat keberlanjutan nilai-nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *