Inilah Poin Penting Hasil Pertemuan Nasional Naib Mudir Ma’had Aly di Bogor

JEMBER – Naib Mudir Ma’had Aly Assunniyyah Kencong Jember, Dr. Akhmad Zaeni, memaparkan poin catatan penting dari pertemuan para Naib Mudir Ma’had Aly se-Indonesia yang digelar di Bogor pada Rabu (8/04/ 2026).

Pertemuan tersebut menghadirkan arahan strategis dari Dr. Mahrus, M.Ag selaku Kasubdit Ma’had Aly yang menekankan penguatan tata kelola, akademik, serta digitalisasi di lingkungan Ma’had Aly.

Dalam pemaparannya, Dr. Akhmad Zaeni menyampaikan bahwa pengelolaan Ma’had Aly ke depan harus lebih fokus dan tidak bercabang dengan lembaga lain.

“Pengelola Ma’had Aly diharapkan benar-benar fokus agar kualitas akademik dan pengabdian dapat maksimal,” ujarnya.

Selain itu, akan segera diluncurkan platform pengabdian berbasis digital bernama Bakhidmah (Bahts dan Khidmah Nabawiyah) yang diperuntukkan khusus bagi dosen dengan home base di Ma’had Aly. Platform ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan Litabdimas di lingkungan PTKIS.

Di bidang akademik, terdapat sejumlah penegasan penting, di antaranya larangan penggunaan metode PTKIS dalam penulisan risalah Ma’had Aly. Risalah diwajibkan menggunakan bahasa Arab atau Pegon, serta tidak diperkenankan menggunakan bahasa Latin. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kekhasan tradisi keilmuan pesantren.

Lebih lanjut, jurnal ilmiah Ma’had Aly juga diarahkan untuk menggunakan bahasa Arab, sebagaimana praktik pada jurnal turats seperti Turosia. Sementara itu, program digitalisasi juga menjadi prioritas, termasuk rencana penerapan e-ijazah dan pengembangan e-library sebagai perpustakaan digital Ma’had Aly.

“Perpustakaan fisik juga harus mulai bertransformasi dengan digitalisasi katalog kitab, sehingga bisa diakses melalui komputer maupun perangkat seluler,” jelasnya.

Tidak hanya itu, penguatan kelembagaan juga menjadi perhatian, di antaranya penyusunan tracer study alumni untuk mendokumentasikan rekam jejak lulusan Ma’had Aly. Di sisi lain, tengah diagendakan pula program sertifikasi dosen Ma’had Aly yang diperkirakan mulai berjalan pada 2026 atau 2027.

“Dalam aspek akademik risalah, turut disampaikan adanya referensi penting berupa ringkasan kitab Jami’ush Shaghir karya Ali Maksum yang dapat dijadikan objek takhrij bagi mahasiswa Marhalah Ula (M1),” lanjutnya.

Sebagai penutup, terdapat harapan besar dari pemerintah agar gedung Ma’had Aly ke depan dapat berdiri secara mandiri sebagai kampus tersendiri layaknya PTKIS, guna memperkuat identitas dan kemandirian institusi.

“Tentunya hal ini diharapkan menjadi pijakan bagi Ma’had Aly Assunniyyah Kencong Jember dalam menyusun langkah strategis ke depan, sekaligus menyesuaikan diri dengan arah kebijakan nasional pengembangan Ma’had Aly di Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *