Munaqosyah Risalah ke-II, Mahasantri Ma’had Aly Assunniyyah Temukan Kejanggalan Takhrij Hadits Pentolan Wahabi

Jember, mahadalyassunniyyah.ac.id

 

Sidang munaqosyah risalah ke-II bagi mahasantri Ma’had Aly Assunniyyah Kencong Jember sebenarnya telah rampung digelar tiga minggu lalu, tepatnya pada Sabtu-Ahad (07-08/01/2023). Namun ada hal menarik saat pelaksanaan munaqosyah tersebut, yaitu mahasantri Ma’had Aly Assunniyyah bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan takhrij hadits salah satu tokoh wahabi, yaitu AlBani.

“Risalah karya mahasantri bernama Nu’man Fadholi yang fokus membahas tentang kajian takhrij Albani, salah satu tokoh sentral Wahabi. Dalam kajian takhrij ini ditemukan ada beberapa kajian takhrij Albani ini tidak sesuai dengan metode yang seharusnya. Dan ini merupakan karya dan temuan luar biasa,” jelas Mudir Ma’had Aly Assunniyyah, Akhmad Zaeni saat dikonrifmasi, Ahad (29/01/2023).

Temuan yang dimaksud Zaeni terdapat di kitab karya Albani “Dlo’ifu Sunan Nasa’i”. Disana ada beberapa hadis yang menurut teori mustalah Hadis umumnya Bisa dikatakan sohih, namun oleh Albani dikatakan dloif, Seperti hadis Pertama dalam Sunan Nasa’i, Albani Menghukumi hadits tersebut dloif Karena terdapat riwayat Mu’an’an Imam Qotadah dari Abdullah Bin Sirjis.

“Albani menyatakan Qotadah tidak pernah mendengar langsung dari Abdullah Bin Sirjis, dan Qotadah termasuk Rowi Mudallis, sehingga Riwayat an’anahnya menjadi dloif. Hal ini bertentangan dengan pendapat imam Ibnu Hajar Al Asqollani yang didukung Ibnu Al Madini, Ibnu Huzaimah Dan Ibnu Sakan, yaitu Qotadah pernah menderang langsung Dari Abdullah Bin Sirjis, sehingga hadisnya bisa dihukumi hasan,” ungkapnya.

Dirinya mencontohkan lagi, di hadis kelima yang dinyatakan doif oleh Albani, setelah diteliti ternyata satusnya hasan li ghoirihi, penyebab perbedaannya adalah Albani tidak melihat adanya mutaba’ah atau tabi’, yakni adanya riwayat lain di dalam Kitab Sunan Kubro yang Bisa Menguatkan hukum hadis tersebut meningkat menjadi hasan li ghoirihi.

“Dan masih banyak beberapa ketidaksamaan metode dan cara pandang Albani dengan ulama hadis kita, perlu menengok ulang beberpa hadis Yang Didoifkan Albani, padahal sejatinya hadis tersebut tidak doif,” tegasnya.

Dengan temuan-temuan itu, Zaeni menganggap risalah karya mahasantri tahun ini sangat menggembirakan, karena mahasantri dinilai lebih antusias. Hal itu terbukti dengan meningkatnya jumlah risalah yang selesai dan bahkan bisa sejauh ini meneliti takhrij para tokoh.

“Tepatnya 20 mahasantri, 4 dengan risalah takhrij dan yang 16 masih dengan temapembahasan tema Fiqih. Dan harapannya kedepan bisa lebih baik lagi dan terus meningkat kualitasnya mahasantri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *