KENCONG – Ma’had Aly Assunniyyah menggelar rapat lanjutan untuk merumuskan pedoman penulisan syarah kitab kuning sebagai tugas akhir mahasantri. Rapat berlangsung di Ruang 1 Ma’had Aly Assunniyyah, Jumat (09/01/2026), dan dipimpin oleh Ustadz Ibni Hasan Abdillah.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Mudir Ma’had Aly Assunniyyah Agus Iqbal Muhammad Rodli, S.Pd., M.Ag., Wakil Mudir II Ustadz Saiful Badri, B.Sc., M.Pd., serta seluruh mudarris Ma’had Aly Assunniyyah.
Dalam rapat itu ditegaskan bahwa penulisan syarah kitab kuning merupakan ciri khas akademik Ma’had Aly yang harus memiliki standar metodologis dan kelayakan ilmiah yang jelas. Karya akhir mahasantri tidak hanya diposisikan sebagai penelitian biasa, melainkan sebagai penulisan ilmiah atas kitab-kitab turats yang menjadi rujukan utama pesantren.
Ustadz Ibni Hasan Abdillah menyampaikan bahwa perumusan pedoman ini bertujuan agar karya syarah yang dihasilkan tetap menjaga keotentikan sumber keilmuan Islam sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
“Penulisan syarah harus menjadi ikhtiar ilmiah untuk menjaga otentisitas ajaran Islam dan relevansinya dalam menjawab persoalan kontemporer,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Mudir II Ustadz Saiful Badri menekankan bahwa tradisi syarah tidak boleh berhenti pada pengulangan teks klasik, tetapi harus mampu menjembatani khazanah keilmuan ulama terdahulu dengan realitas kekinian.
“Melalui syarah yang metodologis, nilai-nilai Islam dari teks otoritatif masa lalu dapat didialogkan dengan isu-isu modern. Inilah cara menjaga kesinambungan tradisi sekaligus keberlangsungannya,” jelasnya.
Rapat tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan awal terkait struktur penulisan, metodologi, serta standar kelayakan ilmiah tugas akhir mahasantri. Pedoman final diharapkan segera disahkan dan menjadi acuan resmi bagi seluruh civitas akademika Ma’had Aly Assunniyyah dalam melahirkan karya ilmiah yang berkontribusi bagi pengembangan keilmuan Islam dan masyarakat luas
