Kencong – Kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan sebuah maqam spiritual yang tinggi dalam perjalanan seorang hamba. Kitab Mursyidul Amīn menggambarkan puncak kesabaran itu sebagai shobrun jamīl, yaitu keadaan ketika seseorang tetap teguh dan tenang tanpa merasa sedang bersabar. Gambaran inilah yang kembali diulas dalam pengajian rutin di Pondok Pesantren Assunniyyah.
Pengajian Kitab Mursyidul Amīn yang digelar setiap hari di PP Assunniyyah kembali berlangsung khidmat dan penuh makna pada Sabtu, 27 Desember 2025. Para santri mengikuti kajian tersebut dengan penuh antusias, menyimak mauidzah hasanah yang disampaikan oleh KH. Khoiruzzad Maddah.
Dalam pemaparannya, KH. Khoiruzzad Maddah menjelaskan bahwa shobrun jamīl adalah bentuk kesabaran yang paling utama. Pada tingkatan ini, seseorang yang bersabar tidak lagi merasa terbebani oleh ujian yang dihadapinya, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang bersabar. Hatinya telah sampai pada ketenangan dan keikhlasan yang utuh.
“Kesabaran yang paling tinggi itu adalah ketika seseorang tetap tenang, ridha, dan tidak mengeluh, bahkan tidak merasa sedang menahan diri. Itulah shobrun jamīl,” tutur beliau di hadapan para santri.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tingkatan kesabaran tersebut tidak dapat diraih secara instan. Shobrun jamīl hanya bisa dicapai melalui proses riyādhah, yakni latihan spiritual yang panjang, terus-menerus, dan penuh kesungguhan.
“Tidak mungkin bisa sampai pada tingkatan ini, yaitu shobrun jamīl, kecuali harus ada riyādhah, ada latihan yang panjang, dalam rentang waktu yang lama,” jelasnya.
Menurutnya, riyādhah meliputi kesungguhan dalam ibadah, pengendalian hawa nafsu, kesabaran dalam menerima takdir, serta ketekunan dalam menjalani proses pendidikan dan pembinaan diri. Dari proses itulah akan lahir pribadi yang kuat secara spiritual, tidak mudah goyah oleh ujian, dan mampu menjaga kejernihan hati.
Pengajian Kitab Mursyidul Amīn di PP Assunniyyah selama ini menjadi salah satu media penting dalam membentuk karakter dan akhlak para santri. Kitab ini dikenal sebagai rujukan tasawuf yang mengajarkan penyucian jiwa, penataan adab, dan penguatan keikhlasan dalam menempuh jalan ilmu.
Melalui kajian ini, para santri diharapkan tidak hanya memahami konsep kesabaran secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam proses menuntut ilmu di pesantren maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan menanamkan nilai shobrun jamīl, pesantren berupaya melahirkan generasi santri yang matang secara spiritual dan emosional, sehingga mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan keteguhan, kebijaksanaan, dan ketulusan.
Penulis: Ariza, Mahasantri Ma’had Aly Assunniyyah Kencong
