MAHADALYASSUNNIYYAH.AC.ID, Tekung. Dalam berdakwah seorang santri haruslah mampu menyampaikan nilai-nilai keislaman dengan santun dan mengedepankan akhlakul karimah selain memakai ilmunya agar diterima dengan baik oleh masyarakat dan senantiasa memberikan solusi atau jalan keluar di segala problematika.
Hal itu disampaikan Gus Zuhairuz Zaman, salah satu Masyayikh Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong saat memberikan arahannya di acara penerjunan mahasantri peserta Kuliah Khidmah Nabawi (KKN) di Masjid Al Hilal Tekung, Rabu (26/02/2025) yang kemudian disebar di masjid-masjid yang ada di desa di desa se-Kecamatan Tekung.
Gus Zuhair menekankan pentingnya peran santri dalam berdakwah. Menurutnya, santri harus tetap dalam posisi sebagai pelajar, mereka juga harus belajar bermasyarakat.
“Jika ditegur oleh masyarakat, dahulukan adab sebelum ilmu,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah yang mengutus Mus’ab bin Umair ke Madinah untuk berdakwah dengan akhlak yang baik di tengah perselisihan Bani Khazraj dan Aus.
Gus Zuhair juga mengingatkan para takmir masjid agar dapat memahami serta membimbing para mahasantri yang masih dalam tahap belajar bermasyarakat.
“Banyak bibit sengketa berawal dari persoalan agama, bahkan cara shalat pun bisa menjadi pemicu perdebatan. Oleh karena itu, mahasantri harus bisa belajar dari para tokoh masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga nama baik santri dan almamater, terutama saat berada di luar pesantren. Dakwah harus dilakukan dengan kemandirian tanpa membebani masyarakat.
“Jangan mengharapkan imbalan apa pun, kedepankan sikap mandiri dalam berdakwah,” pesannya.
Sebagai penutup, Gus Zuhair mengajak para santri untuk meneladani Mus’ab bin Umair, yang berhasil meletakkan dasar kejayaan Islam di Madinah dengan dakwah menggunakan akhlakul karimah meskipun tidak sempat merasakan kejayaan itu sendiri karena meninggal terlebih dahulu.
“Mari kita belajar dari perjuangan sahabat Mus’ab,” pungkasnya.
