MAHADALYASSUNNIYYAH.AC.ID, Kencong. Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong Jember, KH Ahmad Sadid Jauhari menerangkan standar atau patokan seseorang bisa dikategorikan alim atau mumpuni dalam keilmuan tidak hanya diukur dari bisa baca kitab, melainkan juga harus hafal kitabnya.
Hal itu disampaikan putra kedua dari KH Jauhari Zawawi, Pendiri Pondok Pesantren Assunniyyah tersebut saat membuka acara Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK) tingkat Jawa Timur untuk SLTA/sederajat yang digelar Universitas Al Falah Assunniyyah (UAS) Kencong, Rabu (04/10/2023).
Kiai Sadid bercerita, dulu Kiai Idris menantu Kiai Hasyim Asy’ari yang berasal dari Cirebon pernah berkata, jika seseorang hanya bisa baca kitab, bukan dikategorikan orang alim.
“Jadi kita bisa membaca kitab bukan standar alim, standar alim itu hafal kitab,” ulas Kiai Sadid yang juga Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.
Kiai Sadid menjelaskan, Kiai Idris yang pernah menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng dengan takziran uniknya, yaitu santri nakal ditakzir suruh mencium duburnya sapi sampai sapinya kencing, menganggap alim harus hafal kitab.
“Ternyata jadi orang alim tidak mudah, Kiai Jawa yang alim kata Kiai Idris ya Gus Yusuf Hasyim, iparnya, karena hafal kitab, Jadi santri-santri yang juara lomba baca kitab jangan merasa alim ya, tetapi jika hafal kitab itu baru alim,” pungkasnya.
