Tebuireng, 20 Juli 2025
Pesantren Tebuireng adalah nama yang terlalu masyhur untuk diperkenalkan. Didirikan pada 3 Agustus 1899 oleh Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Tebuireng layak disebut sebagai pesantren para kiai besar, baik mereka yang telah menjadi tokoh maupun yang kelak akan menjadi ulama besar di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.
Sejak dahulu, santri-santri yang mondok di Tebuireng bukanlah orang biasa. Mereka adalah ulama-ulama muda yang telah alim dalam berbagai disiplin ilmu. KH. Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo, pernah mondok di Tebuireng. Demikian pula KH. Djazuli Utsman, pendiri Pesantren Al-Falah Ploso. Saking terkesannya dengan sistem pendidikan Tebuireng, terutama pada tahun 1923, KH. Djazuli bahkan mengadopsi kurikulumnya secara penuh untuk diterapkan di Ploso. Hingga hari ini, kurikulum tersebut masih diberlakukan di sana, menjadikan Ploso sering disebut sebagai “foto kopi” Tebuireng era Hadratus Syaikh.
Sebagai seorang ulama besar yang sangat alim dan istimewa, menjadi keniscayaan bahwa murid-murid Hadratus Syaikh adalah sosok-sosok pilihan. Santri yang mondok di Tebuireng kala itu umumnya telah menguasai ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tasawuf, tauhid, tafsir, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya.
Mereka datang ke Tebuireng dengan satu tujuan: menyempurnakan ilmu hadits di bawah bimbingan seorang muhaddits besar, yakni Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, serta meneguk samudra ilmu dan keteladanan beliau. Tak heran jika banyak alumni Tebuireng kemudian menjadi pendiri dan pengasuh pesantren-pesantren besar di Indonesia.
Hal yang sama berlaku bagi KH. Djauhari Zawawi. Sebelum nyantri di Tebuireng, beliau telah menimba ilmu di sejumlah pesantren besar seperti Sedan dan Sarang. Ketika tiba di Tebuireng, beliau sudah matang secara keilmuan, bahkan turut membimbing beberapa santri yang lebih muda. Dari sanalah, dengan barokah dan ketekunan dalam belajar kepada Hadratus Syaikh, beliau kemudian mendirikan Pesantren Assunniyyah Kencong di Jember.
Namun demikian, sebagaimana hukum alam berlaku, Tebuireng pun mengalami perubahan (mutaghayyirat). Tentu kondisi saat ini tidak sama persis dengan zaman Hadratus Syaikh dahulu. Akan menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan jika santri-santri saat ini kembali menghidupkan semangat keilmuan klasik; menenteng Shahihain, Tafsir Jalalain, Fath al-Wahhab, Asybah wa an-Nazhair, serta kitab-kitab besar lainnya; lalu menghidupkan pojok-pojok pesantren dengan tela’ah dan kajian sebagaimana yang dilakukan para ulama salaf di tempat mulia ini.
Kita berdoa dan berharap, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan ilmu dan ruh perjuangan para salafus shalih kepada Pesantren Tebuireng dan seluruh santrinya. Aamiin.
Ditulis oleh: Mudir Ma’had Aly Assunniyyah, Agus Iqbal Muhammad Rodhi
