Kencong — Kuliah Khidmah Nabawi (KKN) menjadi ruang pembelajaran nyata bagi santri untuk menguji konsistensi nilai-nilai pesantren ketika terjun langsung ke tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan KH Khoiruzzad Maddah saat memberikan pembekalan kepada Mahasantri Peserta KKN.
Kegiatan pembekalan tersebut dilaksanakan pada Selasa (03/02/2026) bertempat di Perpustakaan Pondok Pesantren Assunniyyah, dan diikuti oleh seluruh mahasantri yang akan melaksanakan Kuliah Khidmah Nabawi.
Dalam penyampaiannya, KH Khoiruzzad menjelaskan bahwa santri yang selama ini menempuh pendidikan di pesantren kerap merasa berada dalam “menara gading”, seolah-olah konsep keilmuan yang dimiliki telah final. Padahal, ketika terjun ke masyarakat, santri akan berhadapan dengan realitas sosial yang tidak selalu sejalan dengan konsep ideal yang dipelajari di pesantren.
“Di pesantren, nilai dan aturan sudah tertata dengan jelas. Namun, di masyarakat dibutuhkan cara dan metode tersendiri agar nilai-nilai tersebut tetap bisa diamalkan tanpa menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.
Ia mencontohkan persoalan menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis, seperti tidak berjabat tangan. Menurutnya, praktik tersebut membutuhkan kebijaksanaan dan pendekatan yang tepat agar tetap sesuai syariat sekaligus dapat diterima oleh masyarakat.
Selain itu, KH Khoiruzzad juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang sejatinya memerlukan penyikapan dari sudut pandang agama, namun kerap dianggap lumrah. Bahkan, ia menyebut masih dijumpai minimnya sekat interaksi antara laki-laki dan perempuan di sejumlah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Kita perlu menghadirkan pemahaman keagamaan yang tepat sekaligus metode penerapan yang sesuai dengan syariat dan realitas sosial,” tegasnya.
Lebih lanjut, KH Khoiruzzad menekankan pentingnya menjaga moralitas dan akhlak sebagai santri. Menurutnya, selain kapasitas intelektual, akhlak merupakan modal utama dalam menjalankan Kuliah Khidmah Nabawi. Sebab, mahasantri KKN secara tidak langsung menjadi representasi wajah Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepekaan sosial. Beberapa kebiasaan yang dianggap wajar di pesantren, seperti tidur setelah salat Subuh, bisa dinilai kurang pantas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, selama masa pengabdian sekitar 20 hari, peserta KKN diharapkan mampu menjaga sikap dan menahan diri dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan penilaian negatif.
Di akhir pembekalannya, KH Khoiruzzad menegaskan bahwa kecerdasan dalam menyikapi dinamika sosial menjadi keharusan. Di tengah situasi saat ini, pesantren kerap berada dalam sorotan berbagai pihak, bahkan tidak jarang ada yang menunggu preseden negatif.
“Mahasantri KKN harus bersikap cerdas, cermat, dan tidak mudah terpancing provokasi agar tidak mencoreng nama baik pesantren maupun jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.
