Lumajang – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Darul Hidayah, Desa Karangrejo, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang pada Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian mahasantri Ma’had Aly Assunniyyah Kencong, Jember dalam program Kuliah Khidmah Nabawiyah (KKN).
Acara penarikan dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Assunniyyah, KH Ahmad Sadid Jauhari dan KH Ahmad Ghonim Jauhari. Turut hadir para tokoh masyarakat, jajaran pengurus MWCNU Pasrujambe, takmir masjid yang menjadi lokasi pengabdian, serta masyarakat setempat yang antusias melepas para mahasantri.
Dalam mauidzah hasanahnya, KH Ahmad Sadid Jauhari menekankan pentingnya kualitas batin bagi seorang penuntut ilmu sekaligus pengabdi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa keselamatan seorang Muslim sangat ditentukan oleh keselarasan antara ilmu, amal, dan keikhlasan.
“Setiap Muslim berada dalam kerugian kecuali mereka yang berilmu. Namun orang berilmu pun bisa merugi kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang beramal pun masih dalam bahaya kecuali mereka yang melakukannya dengan penuh keikhlasan,” tutur beliau.
Ia juga mengingatkan bahwa dakwah tidak cukup hanya melalui lisan, tetapi harus disertai keteladanan dan perjuangan batin atau tirakat. Menurutnya, keberhasilan dakwah sering kali lahir dari kesungguhan seorang pendakwah dalam memperbaiki dirinya sendiri.
Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menceritakan kisah masyhur tentang ulama besar Madura, Syaikhona Kholil Bangkalan. Dikisahkan, suatu ketika seorang wali santri datang meminta agar putranya dinasihati karena terlalu gemar memakan makanan manis.
Namun alih-alih langsung memberi nasihat, sang kiai justru meminta mereka pulang dan datang kembali tiga hari kemudian. Setelah tiga hari berlalu, barulah ia memberikan nasihat singkat kepada anak tersebut. Ajaibnya, anak itu langsung patuh dan berhenti mengonsumsi manisan.
Ketika ditanya alasan menunda nasihat tersebut, beliau menjawab dengan sederhana bahwa selama tiga hari itu ia terlebih dahulu menahan diri untuk tidak memakan makanan manis.
“Bagaimana mungkin saya melarang orang lain melakukan sesuatu, sementara saya sendiri masih melakukannya,” kisah yang disampaikan KH Sadid Jauhari menirukan jawaban sang kiai.
Melalui kisah tersebut, ia berpesan kepada para mahasantri KKN agar menjadikan keteladanan sebagai landasan dakwah. Sebelum mengajak orang lain menuju kebaikan, seorang pendakwah harus terlebih dahulu menata dirinya dengan ilmu, amal, dan keikhlasan.
